MATEBATIKA
MATEMATIKA BATIK
Karya; Muhammad Abdillah
Izzulhaq
/I/
pada palung temu, kita menjelma
sketsa
Yang meluruhkan malam dan kata-kata
∞.
engkau meramu singularitas
aku menghimpun tiap simpulnya
lantas hijaiyah mencetak homeomorfi
luka lama
Bangga berkata: “Iman hanyalah
topografi di dada!”
/II/
kaki-kaki kami meniti ∂-dimensi
sehelai seni
kala Rafflesia menggelembung, memarahi-
kontinuum kesunyian rimba, mengubah
kurva yang meliuk dalam relung paku-
“anomali” ujarnya, menyeret sejarah
yang mati
seolah kain mengantongi persamaan perselisihan
antara hutan hujan dan ruh kota
pelabuhan
/III/
fluktuasi zaman mengeringkan
warna-warna dari kira-kira
menjelma serat, sarat siasat kita:
Aku meneroka masa dalam Pohon
hayat. “Riuh oleh Kuau!”
Engkau menelisik rona rasa dan
eigen. “Tidak mau konvergen!”
lalu ayat-ayat melesat dari
gorong-gorong kehidupan:
“topologi sunyi”
/IV/
kami mengukir simpul takdir
Yang putus asa melawan logika kehidupan.
Rembulan memilih merebahkan tubuhnya
meski kain peraduan menjadi fraktal
dan tak mengenal destar di alam
nalarnya.
kaligrafi merajut daun
daun merajut cengkeh
cengkeh merajut patah
patah merajut basah
basah, karena banjir muntah
topologi.
/V/
saat kering malam memotret tubuhnya
dimensi memelintir simpul jarum
peradaban
mengantongi pergi morfisme besurek
membuatnya menari pada panggung
logika
yang tumbuh dari hela napas
matematika.
Sidoarjo/ 20
September/ 2025

Komentar
Posting Komentar