Siluet Abdi


Hi? Mengapa kamu disini?  apa kamu juga terjebak? Diamlah disini kan kubawa madah imaji tempat ku mati

Jumat kliwon 24 februari 2012

Malam yang sunyi... apa yang harus kulakukan

*Sekejap aku melamun di bawah pohon yang mistis buah bibir penduduk desa. Mengapa aku ada disini? Bukankah seharusnya tubuh ini sudah ada di rumahku yang hangat dan teduh dingin ini rasanya bisa menusuk dan mencincang kulitku menjadi butiran debu.

*Aku pun teringat bahwa malam ini adalah jumat kliwon yang seharusnya aku menjelajahi tempat misterius yang tak jauh di dalam hutan bangunan tua yang konon katanya terdapat harta emas zamrud yang bisa membuat orang kaya dalam sekejap mata, hanya di malam sunyi ini. aku pun bergegas pergi ke rumah Tom yang berada tak jauh dari tempatku berada.

Mataku berpendar melihat bayangan rumah Fian yang kian mencekam semakin kudekati memang Fian menguasai beberapa ilmu kanuragan yang membuatnya kebal terhadap sihir maupun membalikkan sihir tersebut kepada orang yang mengguna-guna.

Ketika sampai di pekarangan rumah, aku melihat sesosok siluet sedang termenung membelakangiku, ketika aku hendak menyapanya namun siluet tersebut bukan lah Fian melainkan sesosok wanita berbusana merah marun dengan rambut yang menjulang hampir menutupi seluruh punggung wanita tersebut. 

Aku memutuskan menepuk pundak wanita tersebut, dia berbalik, aku menatap nya heran sesaat sebelum akhirnya pintu rumah fian terbuka dengan sosok yang ku kenali.


"Hei nampak nya kamu sudah bersiap dan, apa yang kamu lakukan disana? kemarilah".

Aku tersadar yang ku lihat bukan wanita melainkan hanyalah mannequin memakai busana merah.

"Apa yang kamu lakukan berdiri termenung tadi?"

"Termenung? apa kamu tidak lihat? jelas-jelas ada mannequin di ujung bangku sana!?"

"Mannequin?, apa kamu tidak salah lihat?"

"Iya dia jelas-jelas berdiri di-"

*Saat aku hendak menunjuk nya, mannequin itu menghilang beserta rambut nya yang tinggi menjulang hanya menyisakan siluet wajah nya yang pudar mengudara.

"Mungkin kau terlalu banyak menghayal, sudahlah tak usah di pikirkan mari kita bergegas mencari emas itu. Ayo aku sudah bersiap kita tak bisa melewatkan ini hanya di saat sinar bulan pas mengenai bangunan tersebut, penjagal akan tertidur selagi kita mengambil emas beserta pusaka tersebut lalu membunuh nya."

Sesaat setelah kejadian itu kami memutuskan bergegas pergi ke kastil tersebut, Menyusuri hutan rimba banyuwangi di saat bulan bersinar lumayan membantu kita untuk lebih cepat menuju kastil tua tersebut. Bangunan itu nampak sudah terbengkalai ratusan tahun, berselimut lumut, kayu-kayu yang lapuk, beserta dinding tembok yang sudah hancur dan danau yang tepat berada di samping bangunan tersebut. Kami melompat menyusuri danau, Tepat di bawah danau ini tersambung jalan rahasia menuju kastil tua tersebut, alasan bagus kami tidak melewati pintu depan kastil itu, karena pintu itu tergembok oleh sesuatu yang tidak bisa di sebut gembok, mekanisme yang rumit nan sulit itu tidak memerlukan kunci tetapi perlu menyelesaikan puzzle yang memerlukan waktu berhari-hari lama nya saking rumit nya.

Setelah melewati jalan rahasia kami menemukan parit yang memiliki banyak sekali sarang laba-laba dan bau khas yang menyengat hidung. Kami menemukan tangga yang menuju atap loteng tetapi sebelum kesana mata kita berpendar ada sesuatu di ujung jalan menuju ke kami, badan itu besar dengan mata merah dan tubuh yang menjulang tinggi, kami panik dan cepat-cepat menuju atas tangga. Sosok itu mulai berlari dan meraung keras di saat itu kami memanjat cepat sekali layak nya laba-laba namun, kaki ku tertarik oleh sosok tersebut padahal kami sudah memanjat tangga tersebut cukup tinggi namun sosok tersebut layaknya raksasa yang beringas, aku mencoba melawan dengan menendang kepala dari sosok tersebut namun percuma dia beringas sekali menarik kaki ku tepat setelah itu tubuh ku goyah dan mulai terjatuh, aku tak berputus asa dan tetap mencari peluang keselamatan, aku memegang senter besar ketika memanjat ku perkuat ancang-ancang kaki ku dan melompat mengincar kepala dari sosok tersebut dan BUK, aku berhasil melumpuhkan nya, dia terjatuh pingsan bersamaan tubuh ku yang mendarat tepat di atas nya, Fian turun mengecek kondisi ku. 

"Apakah kamu terluka!?"

"Kepalan tangan ku sakit mungkin aku terlalu keras memukul nya tetapi kepala nya sekeras baja padahal aku memukul nya menggunakan senter"

"Untung saja, mari kita lanjutkan perjalanan kita"

Menaiki tangga mata ku berpendar, dimana kita? aku dan fian melihat-lihat sekitar, tepat dimana ada









Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATEBATIKA

Memoar rengkah